Monday, 18 Dec 2017, 23.27.34

ROMANSA

Main | Blog | Registration | Login
Site menu
Section categories
Broken Heart Survival Guide [170]
ANDA SAMPAI DI HALAMAN INI, KARENA ANDA SEDANG MERASAKAN KEBINGUNGAN AKIBAT PATAH HATI DAN PUTUS CINTA KARENA BERPISAH DENGAN KEKASIH ANDA.
Share
Love Calculator
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Login form
Real Music

MusicPlaylist
Main » 2009 » October » 21 » Kebahagiaan : Sebab atau Akibat?
11.58.41
Kebahagiaan : Sebab atau Akibat?

Melihat kebiasaan orang banyak, kebahagiaan seringkali menjadi tujuan hidup. Dengan kata lain, kita berusaha keras melakukan sesuatu agar bisa mendapatkan, atau setidaknya mencicipi, apa yang disebut sebagai kebahagiaan.

Contoh paling sederhana dan sering ditemukan adalah berpikir bahwa kekayaan akan membawa manusia pada kebahagiaan. Sekilas itu terasa rumus yang paling logis. Jika kita banyak uang dan bisa membeli apa saja yang diinginkan untuk sebuah kehidupan nyaman, tidakkah kita akan merasa bahagia?

Jurnal Science mengungkap fakta sebaliknya.

"Your next raise might buy you a more lavish vacation, a better car, or a few extra bedrooms, but it’s not likely to buy you much happiness. Measuring the quality of people’s daily lives via surveys, the results of a study reveals that income plays a rather insignificant role in day-to-day happiness. Although most people imagine that if they had more money they could do more fun things and perhaps be happier, the reality seems to be that those with higher incomes tend to be tenser, and spend less time on simple leisurely activities."

Menjadikan kebahagiaan sebagai sebuah Akibat sepertinya akan membuat kita justru merasakan sebaliknya. Sama seperti banyak pria dan wanita yang ingin memiliki pacar/kekasih supaya mereka bisa merasa lebih bahagia. Secara logika, masuk akal. Tapi dalam realita, pola seperti itu adalah racun yang sangat merusak.

Saya berpendapat bahwa kebahagiaan selayaknya berada pada sisiPenyebab, sebagaimana apa yang disampaikan oleh hasil penelitian lainnyayang menyebutkan bahwa orang yang berbahagia cenderung mendapatkan lebih banyak kesuksesan dalam hidup, karir, dan aspek finansial.

Misalnya, seseorang yang merasa bahagia pada usia 18 ternyata akan mencapai kebebasan finansial, peraihan karir yang lebih tinggi dan keleluasaan bekerja ketika menyentuh usia 26. Semakin seseorang menciptakan kebahagiaan di dalam dirinya, semakin besar kemungkinan dia menciptakan prestasi yang luar biasa di dunia kerja.

"But before we find yet another reason to be envious of very happy people (not only do they get to feel great, but they get to have good jobs and make more money as well!), consider what the research on happiness and work suggests. It suggests that, when it comes to work life, we can create our own so-called "upward spirals.” The more successful we are at our jobs, the higher income we make, and the better work environment we have, the happier we will be. This increased happiness will foster greater success, more money, and an improved work environment, which will further enhance happiness, and so on and so on and so on."

Anda dan saya bertanggung jawab untuk menempatkan kebahagiaan sebagai penyebab segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita, bukan sebaliknya.

Adakah satu hari dimana terjadi ritual pembantaian manusia besar-besaran di seluruh dunia yang bukan saja terus diperingati, tapi juga dilakukan berulang-ulang, setiap tahunnya? Tanggal 14 Februari, atau biasa dikenal denganValentine’s Day.

Saya tidak mengacu pada konflik berdarah antar mafia Al Capone dan Bugs Moran pada musim dingin 1929. Saya juga tidak berbicara tentang hari kematian martir seorang santo di abad 3 Masehi yang kemudian menjadi asal-usul nama Hari Valentine.

Yang saya maksud adalah pembantaian hati para pria dan wanita di seluruh dunia yang dilakukan atas nama cinta, baik mereka yang sudah dalam hubungan asmara ataupun masih single. Pernahkah terbayang ada berapa banyak orang yang mengalami patah hati karena ungkapan perasaan cintanya ditolak pada hari itu? Valentine’s Day juga membuat pria dan wanita yang belum memiliki pasangan merasa aneh, cacat, depresi karena merasa tidak terlibat dalam perayaan sedunia itu.

Itu sebabnya menjelang hari Valentine, banyak yang terpikir menyatakan perasaan, atau menembak, gebetannya. Sayang sekali, ide itu justru membuka resiko depresi lebih parah karena penolakan yang Anda terima di hari itu berarti akan dirayakan oleh ratusan juta manusia setiap tahunnya.

Tidak peduli apapun cara nembak yang Anda pilih, misalnya lewat radio ataudi tepi sawah, secara statistik 14 Februari adalah hari terburuk untuk melakukannya! Rasa sakit hati yang Anda alami mampu untuk mendorong Anda melakukan tindakan bodoh seperti bunuh diri massal, menculik anak orang dan membunuh kekasih idaman Anda; tentu itu kejutan terbesar yang pernah dia dapatkan, sekaligus kejutan terakhir dalam hidupnya…

Bagi yang sudah memiliki hubungan, tren Valentine’s Day memiliki kecenderungan merusaknya karena adanya harapan-harapan yang tidak sehat tentang hari tersebut. Pria dan wanita mengalami lebih banyak tekanan pada hari itu dibandingkan dengan hari-hari lain dalam satu tahun. Alasannya adalah karena para produsen kartu ucapan seperti Hallmark, pabrik coklatHershey‘s, toko perhiasan Tiffany & Co., dan jutaan toko bunga berhasil mencuci otak setiap wanita dan sebagian besar pria bahwa Valentine’s Dayadalah sebuah momentum yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Tidak peduli Anda masih dalam periode pendekatan, sekedar TTM, pacaran, atau malah menikah, tekanan yang diciptakan oleh para korporasi besar itu terlalu besar untuk dilawan sehingga mau tidak mau Anda terhipnotis untuk melangkah ke dalam salah satu toko, sujud menyembah sang dewa Cinta dan membeli satu dua jimat yang konon bisa mempererat hubungan emosional Anda dengan kekasih.

Setiap tahunnya, pada hari Cinta dan Kasih Sayang sedunia, justru kedua hal tersebut mendadak menjadi sesuatu yang sangat sulit dan penuh tekanan sekaligus dangkal. Alasan saya menulis demikian adalah karena semakin panjang periode sebuah hubungan, semakin besar tekanan yang pasangan itu alami karena menipisnya ide-ide orisinal. Begitu teracuni dengan budaya kapitalistik, kita biasanya menyerah dan mengambil jalan pintas: mencarikan hadiah atau acara yang lebih mahal daripada tahun sebelumnya.

Kalau pasangan tersebut kebetulan tidak memiliki hambatan apapun di departemen finansialnya, maka Valentine tahun itu akan berlalu dengan menyenangkan. Tapi kalau salah satunya, mengalami kesulitan, maka satu minggu menjelang hari Valentine tahun itu akan menjadi neraka berjalan.

Saya tahu sekarang ini masih terlalu jauh dari jadwal Valentine berikutnya, tapi memang itu maksud saya menerbitkannya sekarang agar Anda dapat mempersiapkan diri dan pasangan Anda. Beberapa saran sederhana adalah: hindari memberikan hadiah yang terlalu ekstrim, misalnya ular dan janin bayi; kalau bisa jangan berduaan di kos; lupakan nasihat-nasihat bodohberedar di tabloid dan majalah populer yang semakin memperparah situasi; dan sadari bahwa survei mencatat ada banyak kisah cinta yang terputus pada pada hari Valentine.

Terakhir, jika semua orang di dunia bersikap sok spesial di hari Valentine, bukankah itu berarti Anda dan pasangan Anda menjadi tidak spesial (sama seperti orang lain) jika ikut-ikutan bersikap spesial seperti itu juga?


 ·  · Share 
Category: Broken Heart Survival Guide | Views: 242 | Added by: avacschat | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
Romansa
Calendar
«  October 2009  »
SuMoTuWeThFrSa
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Translate
Search
Entries archive
Site friends
  • Romansa





  • Romansa
    Currency
    Copyright Romansa©2009Eex Ferrilianto